Dalam hidup berinteraksi dengan oranglain,peluang untuk terjadinya gesekan.
Bukan hanya dalm lingkungan sekolah,kuliah,ataupun pekerjaan dan pelayanan pun lazim terjadi perbedaan cara pandang dan prinsip hidup.
jika tidak disikapi dengan bijak,tentu akan membahayakan kelangsungan dari pelayanan itu sendiri.
Berdiam diri adalah sikap terbaik ketika kita tengah berada dalam badai kritik.
Ini menjadi suatu momentum bagi kita untuk sejenak memperlambat langkah,lebih banyak mendengar daripada berbicara,serta memberi kita cukup waktu untuk mengevaluasisetiap langkah yang sudah kita ambil.
Perbedaan pendapat adalah hal biasa dalam sebuah hubungan dengan orang-orang disekitar kita.
Semua kembali pada respon yang kita akan lakukan untuk menanganinya.
Bahkan dalam kritik yang tajam sekalipun,tetap ada satu poin positif yang bisa diambil,yakni bahwa Orang yang mengkritik kita memberikan perhatian pada kita!
Mengalah bukan berarti kalah!
Kemampuan untuk menguasai diri, penuh kontrol, dan berdiam diri justru menunjukkan kualitas pribadi yang matang.
Kitab Amsal secara lugas berkata," siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri "
Seorang yang bijak tahu kapan harus berdiam diri dan tahu kapan harus berbicara.
Jika situasi masih panas,akan lebih baik jika kita mundur sejenak.
Firman Tuhan dalam Roma 12 : 18 berkata,"Sedapat-dapatnya,kalau hal itu bergantung padamu,hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"
Hal yang sama juga harus kita lakukan ketika kita menghadapi fitnah.
Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.
Sebagai domba Allah kita cukup berdiam diri dan menantikan Dia.
Biarkan Tuhan Sang Gembala Agung yang menjadi Pembela kita,karena dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan kita..
Bukan hanya dalm lingkungan sekolah,kuliah,ataupun pekerjaan dan pelayanan pun lazim terjadi perbedaan cara pandang dan prinsip hidup.
jika tidak disikapi dengan bijak,tentu akan membahayakan kelangsungan dari pelayanan itu sendiri.
Berdiam diri adalah sikap terbaik ketika kita tengah berada dalam badai kritik.
Ini menjadi suatu momentum bagi kita untuk sejenak memperlambat langkah,lebih banyak mendengar daripada berbicara,serta memberi kita cukup waktu untuk mengevaluasisetiap langkah yang sudah kita ambil.
Perbedaan pendapat adalah hal biasa dalam sebuah hubungan dengan orang-orang disekitar kita.
Semua kembali pada respon yang kita akan lakukan untuk menanganinya.
Bahkan dalam kritik yang tajam sekalipun,tetap ada satu poin positif yang bisa diambil,yakni bahwa Orang yang mengkritik kita memberikan perhatian pada kita!
Mengalah bukan berarti kalah!
Kemampuan untuk menguasai diri, penuh kontrol, dan berdiam diri justru menunjukkan kualitas pribadi yang matang.
Kitab Amsal secara lugas berkata," siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri "
Seorang yang bijak tahu kapan harus berdiam diri dan tahu kapan harus berbicara.
Jika situasi masih panas,akan lebih baik jika kita mundur sejenak.
Firman Tuhan dalam Roma 12 : 18 berkata,"Sedapat-dapatnya,kalau hal itu bergantung padamu,hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"
Hal yang sama juga harus kita lakukan ketika kita menghadapi fitnah.
Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.
Sebagai domba Allah kita cukup berdiam diri dan menantikan Dia.
Biarkan Tuhan Sang Gembala Agung yang menjadi Pembela kita,karena dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan kita..